Kamis, 05 November 2015



TAKHAYUL
21 March 2011 at 19:24

Titik embun perlahan jatuh dari bibir daun, membasahi tanah dan kemudian hilang diantaranya. Hewan-hewan malam pun mulai kembali ke persembunyiannya dan kembali terlelap menyambut mentari. Kini, kicau burung bersenandung meramaikan pagi bersama gurauan dan perbincangan pagi ibu-ibu desa. Sedangkan semilir angin berhembus diantara helaian rambut, sebagiannya masuk menyegarkan hidung. Para pepohonan menjulang tinggi seakan menggapai langit, sesekali angin datang menerpa dahan-dahan pohon membuatnya terlihat melambai pada orang-orang sekitarnya. Dari sana terlihat seberkas sinar dari langit berusaha menembus dedaunan memantulkan bayangan sekelilingnya. Beberapa daun kering terlepas dari tangkainya, perlahan terbaring di tanah. Setapak demi setapak kaki Inong melangkah menjajaki jalanan desa yang bebatuan. Rok biru muda setinggi lutut dan kaos merah muda yang melekat di tubuhnya membuatnya nampak elok dalam kesederhanaan. Di bibirnya, seakan terdapat bulan sabit melekat dalam senyumnya. Parasnya yang ayu sehangat sinar matahari di bumi. Tangan kanannya menenteng hasil belanjaan, sandal jepitnya basah menginjak embun rerumputan liar. Noda lumpur terlihat menghiasi kaki dan sandalnya. Lengkap sudah pagi tenang yang asri tergambar.
” Pagi Inong...” sapa ramah seorang pemuda yang sibuk dengan motornya.
            Langkah Inong terhenti mendengar seseorang menyebut namanya. Pandangannya mengarah ke pemuda itu. Dilemparnya senyum ramah membalas sapaan si pemuda.

“ Dari belanja?” Lanjut pemuda itu tak mau gadis di hadapannya berlalu dengan cepat.
“ Iya mas, beli sarapan buat mbak Asih. Buru-buru balik ke Surabaya soalnya.” Jawab Inong jelas.
“ Gus, cepet masuk! Bantu ayahmu pasang lampu.” Perintah seorang wanita setengah tua yang tiba-tiba keluar dari dalam rumah.
“ Lampu yang mana?” tanya pemuda itu setengah heran.
“ Sudah, masuk saja!” perintah ibunya. Tatapannya tak bersahabat.
“ Mari mas.” Pamit Inong
Pemuda itu hanya tersenyum menjawab Inong.
“ Ibu kan sudah bilang. Nggak usah ngajak Inong ngobrol!”
“ Memangnya kenapa bu? Dosa apa Agus nyapa Inong?”
“ Bukannya begitu, ibu cuma kuatir kalau nanti kamu kenapa-kenapa. Gadis itu bawa sial!”
“ Ah, ibu.... itu fitnah namanya, mana ada orang bawa sial?”
“ Kamu itu dikasih tau, malah ngeyel!” sentak wanita itu setengah jengkel
“ Apa buktinya bu?”
“ Mana ada pacarnya sekarang yang masih hidup? Tahun lalu si Riko pulang babak belur kena tonjok habis nyapa Inong, terus..”
“ Bu,,, kematian seseorang bukan karena kesialan orang lain! Kalau masalah si Riko, itu ya salah dia sendiri, kurang ajar sama Inong!” bantah Agus realistis.
“ Sudah. Ibu nggak peduli! Pokoknya kamu ngga usah ngobrol sama Inong lagi!“ ucapnya seraya mengancam anaknya sendiri.

********

            Air mengucur perlahan membasahi kaki putih mulus yang kemudian membuat lumpur di kulitnya menghilang. Langkah Inong mulai memasuki ruangan dimana ibunya berada. Di atas meja jati kantong belanjaannya diletakkan. Satu per satu isi kantong dikeluarkan. Sang Bunda mengambil bungkusan berisi sarapan dan menempatkannya pada sebuah wadah.

“ Panggil mbak yu mu Nong. Sarapannya sudah siap. ” Perintah ibunya, tangan  wanita ini masih sibuk menata meja makan dan menyiapkan segala perlengkapan makan.

Seketika Inong meninggalkan ruang makan, menjajaki anak tangga sembari memaggil nama kakaknya. Tak kunjung terdengar balasan kakaknya, langkahnya mengarah pada sebuah kamar di sudut. Diketuk beberapa kali tak ada jawaban. Perlahan dibuka daun pintu kamar itu, matanya mulai menjelajah seluruh inchi ruangan. Tak ditemukan kakaknya.

“ Mbak Asih..” panggil Inong

            Dari sudut lain terdengar suara tangis bayi meringkih. Inong mulai meninggalkan kamar kakaknya dan beralih ke arah suara tangis bayi. Suara itu berasal dari kamar lain di sudut yang berbeda. Pintu kamar itu telah terbuka separuh, tangan Inong meraih gagang pintu dan membuat pintu terbuka lebar. Disana, pandangannya mendapati kakaknya yang sedari tadi dicarinya menimang-nimang bayi berusia sekitar 14 bulan. Air mata membasahi wajah mungil, kaki dan tangannya bergerak tak beraturan berontak ingin terlepas dari dekapan bundanya. Tangisnya semakin lama semakin kencang. Kamar Inong berantakan. Semua barang-barang keluar dari persembunyiannya. Perlahan pandangannya terarah pada kakaknya. Wajah Asih terlihat setengah ketakutan merasa tak enak pada Inong. Dia tau betul adiknya paling benci seseorang masuk kamarnya, setidaknya itulah yang dia sepakati dulu dengan adiknya untuk tidak memasuki area privasi masing-masing.

“ Nong mbak minta maaf ya, mbak nggak tau Sandi masuk sini.” Jelas Asih setengah kesusahan menggendong anaknya yang semakin meronta.

            Tangis Sandi semakin menjadi. Kecerian di wajahnya hilang seketika. Hati kecil Inong merindukan wajah malaikat keponakannya. Sesaat senyum singgah di bibir Inong untuk kakaknya.

“ Nggak apa-apa mbak. Biar Inong yang beresin, mbak sarapan dulu. Ntar Inong nyusul. ”

********

            Tangis sandi samar-samar masih terdengar dari dinding kamarnya. Dilihatnya seluruh isi kamarnya, sungguh seperti kapal pecah. Sesaat menghela nafas panjang dan memulai mengembalikan ruangannya. Seprei, bantal dan guling dirapikan seperti sediakala. Satu per satu barang di lantai di ambilnya dan di kembalian pada tempatnya. Novel-novel dan komik koleksinya di letakkan pada rak meja belajarnya. Bedak, sisir serta botol-botol berisi perlengkapan riasnya ditata seperti sebelumnya. Surat-surat dan dokumen penting seperti ijazah dan sertifikat dikembalikan pada kotaknya. Kini tiba pada kertas bewarna-warni dan foto-foto yang tidak seharusnya keluar dari kotak pandoranya. Wajar Sandi dengan mudah mengacak-acak barangnya, semua tergeletak pada ketinggian rendah yang dapat dijangkau keponakannya, apalagi kotak terlarangnya itu malah bersembunyi di kolong kasurnya. ‘ Sial!’ batin Inong

            Wajah yang terlukis difoto itu, kini tergambar di matanya. Perlahan Inong membungkukkan badannya meraih salah satu foto. Senyum yang abadi pada kertas di tangannya, membuat tangan Inong gemetar. Diambilnya duduk bersandar pada dinding ranjang. Matanya mulai berair, perlahan nafasnya tersengal mengisak tangisnya. Foto itu bagai hipnotis yang kuat mengantar pikirannya melayang jauh pada suatu waktu. Waktu disaat Inong dapat melihat senyum yang sesungguhnya, mendengar suara yang terdengar langsung dari pemiliknya, dan menyentuh kulit milik pemuda di foto itu.

********

“ Nggak!!!!”

“ Sekali aku bilang nggak ya nggak!!!!” lanjut suara yang memekikkan telinga.

“ Ya tapi kenapa?” tanya seorang yang lainnya

“ Aku nggak mau bim.” Seisi rumah seakan terpenuhi oleh suara kedua orang ini. Mbak Asih jelas malam mingguan dengan mas Antok, Ayah-Bunda pergi ke hajatan teman sekantor Ayah. Rumah seharusnya sepi.

“ Ayolah Nong, jarang kita keluar buat kencan.” Rayu seorang lelaki di ruang itu.

“ Ya tapi nggak di pasar malam!” bentak Inong di masa itu.

“ Ya tapi kenapa?” tanya Bima tidak terima.

“ Aku nggak perlu jelasin” jawab Inong memelankan suaranya.

 Wajah Bima nampak kesal tak puas dengan jawaban Inong.

“ Ini karena Arya? Ya ‘kan?” Bima seakan memulai debatnya lagi

            Inong tertuduk sejenak. Dibantingnya tubuh mungilnya ke sofa di ruang tamunya. Sesekali menghela nafas panjang.

“ Aku cuma capek bim.” Inong beralasan.

“ Sampai kapan kamu mau terpuruk Nong? Ke pasar malam bukan suatu kutukan.” Jelas Bima mengambil duduk di depan Inong. Tangannya menarik jemari Inong dan menggenggamnya kuat.

“ Dan kematian Arya bukan karena motor ataupun kencan ke pasar malam.” tambahnya dengan nada lirih.

            Pikirannya seakan tersedot ke masa lalu yang lebih dalam. Arya hanya duduk di atas kursi kayu rumahnya dengan kepala yang bersandar pada lengannya. Diambilnya posisi yang nyaman. Badannya seakan telah menyatu dengan kursi itu.

“ Ayolah Ar,” rayu Inong sama persis dengan Bima.

“ Aku lelah Nong, minggu depan saja ya...” jawab Arya menolak ajakan Inong.

“ Tapi minggu depan pasar malam itu sudah bubar” paksa Inong manja.

“ Kalau gitu kamu berangkat sama mbak Enik saja ya...” bujuk Arya sabar.

“ Aku pacarmu! Bukan pacar Mbak yu mu!” ucap Inong kesal.

“ Aku harus apa Nong buat kamu percaya? Aku benar-benar lelah.” Melas Arya.

“ Aku sudah terlanjur beli dua tiket untuk kita naik gondola.” Inong mulai beralasan lagi.

            Punggung Arya terlihat jelas mengharap lebih lama diistirahatkan walau hanya bersandar pada kursi kayu sekali pun.

“ Ya sudah. Tunggu, aku ganti dulu”

            Arya bangkit dari tempat duduknya. Mengambil jaket dan kunci motor. Motor bututnya kembali dikeluarkan dari teras rumahnya. Angin malam  menghembuskan hawa dinginnya menerpa insan yang disekitarnya seakan menyeret Arya dan Inong ke arah yang berlawanan. Kondisi Arya melemah, beberapa kali ia mengedipkan mata berusaha mengembalikan pandangannya yang sempat kabur. Inong tau betul watak Arya yang terlalu gigih mengikuti kegiatan sekolah dan mengisi hari-hari organisasi sekolahnya. Itu menjadikan Inong mengutuk waktu.

            Cahaya bulan temaram menghiasi langit hitam legam bertabur bintang. Lampu-lampu di sepanjang jalan membantu Arya melihat dalam gelapnya malam. Nampak satu-dua cahaya yang terpantul dari lampu motor pengendara yang lain. Lagi-lagi angin menerpa mengacaukan pandangan Arya. Hingga pada suatu ketika yang bisa ia lakukan hanya mendengar klakson keras dari kendaraan yang di depannya. Decit mobil berhenti. Motor butut terkapar di jalanan. Arya terlempar jauh di jalan beraspal. Mata Inong setengah sadar melihat tubuh kekasihnya masa itu tertidur pulas di atas aspal. Darah keluar dari hidung dan kepala Arya, jaketnya robek, kulitnya lecet. Di tengah cahaya yang mulai memudar sinarnya, warga keluar dari peraduannya dan berlarian ke arah Inong dan Arya. Beberapa diantaranya menjerit memekikkan kata ‘tolong’. Perlahan mata Inong mulai terpejam.

            Selama tiga hari Inong tak sadarkan diri. Hal pertama yang ia tau saat membuka matanya kembali ke dunia adalah kepergian Arya, kekasihnya. Hatinya ia tutup rapat-rapat untuk mengutuk ke egoisan mereka berdua.

“ Nong...” panggil suara yang membuat Inong kembali ke masanya.

“ Kamu masih belum bisa terima soal Arya”

            Pandangan Inong kacau. Matanya menatap wajah Bima, lelaki yang kini menjadi kekasihnya, pemuda yang bisa mengangkatnya dari kutukannya sendiri.

“ Sudah Nong, itu sudah selesai. Sekarang waktu kita.”

“ Itu nggak akan buat aku mau pergi ke pasar malam Bim.” Jawab Inong ketus.

“ Jangan bodoh seperti Don Kisot Nong! ! kamu pikir apa yang kamu hadapi? ”

“ Sudahlah bim, aku nggak mau! Sekali nggak ya tetep nggak! ” Inong kembali menaikkan suaranya.

“ Tapi kematian seseorang itu sudah digariskan Tuhan, begitu pun Arya Nong.”

“ Sudah. Aku sudah lelah debat sama kamu yang ngeyel terus. Aku harus tulis di jidatku kalau aku tetep nggak mau?”

            Bima seketika melepaskan gengamannya. Geram dengan pemikiran Inong.

“ Baik! Aku akan buktikan kalau pemikiranmu yang kolot itu cuma omong kosong! Dengar Nong, naik motor atau pergi ke pasar malam bukan membawa kematian seseorang.”

            Deru motor Bima perlahan menjauh. Inong ditinggal bersama masa lalunya dan pergi membawa kekecewaan akan kekasihnya. Cahaya motornya perlahan lenyap ditelan gelap.

            Pagi yang menyakitkan, Inong harus kembali melihat tubuh pemuda yang disayanginya terkapar tak bernyawa. Wajah bima pucat, terdapat beberapa bekas luka lecet di sekitarnya. Parasnya nampak dingin, sedingin saat ia meninggalkan Inong bersama kebodohnnya dan kini membuat kekasihya mengutuk kembali dirinya sendiri. Tak tertahan lagi, air mata Inong jatuh menuruni pipi mulusnya. Kini hati Inong tertutup untuk selamanya. Mendekap pemikiran kolotnya.

“ Inong... Ayo turun sarapan dulu.” panggil suara ibunya dari lantai bawah

            Inong tertarik kembali pada masa di mana kenyataan melilitnya dengan kehampaan. Angin pagi semilir masuk melalui jendela kamarnya yang terbuka lebar. Tirai melambai ke arahnya diterpa angin yang berbondong-bondong memenuhi kamarnya. Inong bangkit dari duduknya melangkah ke arah jendela kamarnya. Sesaat ia berharap menjadi seorang Clementine saja. Matanya mengarah pada para ibu-ibu yang masih berkumpul membahas belanjannya dan beberapa mempunyai bahan perbincangan lainnya. Dihirupnya dalam-dalam udara segar yang datang ke arahnya, dirasakannya kenyataan akan hidupnya, didengarnya perbincangan para ibu-ibu dari bisik angin di telinganya. Perbincangan tentang Inong yang hanya dikenal sebagai perawan desa pembawa sial.......

Tidak ada komentar:

Posting Komentar