TAKHAYUL
21 March 2011 at
19:24
Titik embun perlahan jatuh dari bibir daun, membasahi tanah dan
kemudian hilang diantaranya. Hewan-hewan malam pun mulai kembali ke
persembunyiannya dan kembali terlelap menyambut mentari. Kini, kicau burung
bersenandung meramaikan pagi bersama gurauan dan perbincangan pagi ibu-ibu
desa. Sedangkan semilir angin berhembus diantara helaian rambut, sebagiannya
masuk menyegarkan hidung. Para pepohonan menjulang tinggi seakan menggapai
langit, sesekali angin datang menerpa dahan-dahan pohon membuatnya terlihat
melambai pada orang-orang sekitarnya. Dari sana terlihat seberkas sinar dari
langit berusaha menembus dedaunan memantulkan bayangan sekelilingnya. Beberapa
daun kering terlepas dari tangkainya, perlahan terbaring di tanah. Setapak demi
setapak kaki Inong melangkah menjajaki jalanan desa yang bebatuan. Rok biru
muda setinggi lutut dan kaos merah muda yang melekat di tubuhnya membuatnya
nampak elok dalam kesederhanaan. Di bibirnya, seakan terdapat bulan sabit
melekat dalam senyumnya. Parasnya yang ayu sehangat sinar matahari di bumi.
Tangan kanannya menenteng hasil belanjaan, sandal jepitnya basah menginjak
embun rerumputan liar. Noda lumpur terlihat menghiasi kaki dan sandalnya.
Lengkap sudah pagi tenang yang asri tergambar.
” Pagi Inong...” sapa ramah seorang pemuda yang sibuk dengan motornya.
Langkah Inong
terhenti mendengar seseorang menyebut namanya. Pandangannya mengarah ke pemuda
itu. Dilemparnya senyum ramah membalas sapaan si pemuda.
“ Dari belanja?” Lanjut pemuda itu tak mau gadis di hadapannya berlalu
dengan cepat.
“ Iya mas, beli sarapan buat mbak Asih. Buru-buru balik ke Surabaya
soalnya.” Jawab Inong jelas.
“ Gus, cepet masuk! Bantu ayahmu pasang lampu.” Perintah seorang
wanita setengah tua yang tiba-tiba keluar dari dalam rumah.
“ Lampu yang mana?” tanya pemuda itu setengah heran.
“ Sudah, masuk saja!” perintah ibunya. Tatapannya tak bersahabat.
“ Mari mas.” Pamit Inong
Pemuda itu hanya tersenyum menjawab Inong.
“ Ibu kan sudah bilang. Nggak usah ngajak Inong ngobrol!”
“ Memangnya kenapa bu? Dosa apa Agus nyapa Inong?”
“ Bukannya begitu, ibu cuma kuatir kalau nanti kamu kenapa-kenapa.
Gadis itu bawa sial!”
“ Ah, ibu.... itu fitnah namanya, mana ada orang bawa sial?”
“ Kamu itu dikasih tau, malah ngeyel!” sentak wanita itu setengah
jengkel
“ Apa buktinya bu?”
“ Mana ada pacarnya sekarang yang masih hidup? Tahun lalu si Riko
pulang babak belur kena tonjok habis nyapa Inong, terus..”
“ Bu,,, kematian seseorang bukan karena kesialan orang lain! Kalau
masalah si Riko, itu ya salah dia sendiri, kurang ajar sama Inong!” bantah Agus
realistis.
“ Sudah. Ibu nggak peduli! Pokoknya kamu ngga usah ngobrol sama Inong
lagi!“ ucapnya seraya mengancam anaknya sendiri.
********
Air mengucur
perlahan membasahi kaki putih mulus yang kemudian membuat lumpur di kulitnya
menghilang. Langkah Inong mulai memasuki ruangan dimana ibunya berada. Di atas
meja jati kantong belanjaannya diletakkan. Satu per satu isi kantong
dikeluarkan. Sang Bunda mengambil bungkusan berisi sarapan dan menempatkannya
pada sebuah wadah.
“ Panggil mbak yu mu Nong. Sarapannya sudah siap. ” Perintah ibunya, tangan wanita ini masih sibuk menata meja makan dan
menyiapkan segala perlengkapan makan.
Seketika Inong meninggalkan ruang makan, menjajaki anak tangga sembari
memaggil nama kakaknya. Tak kunjung terdengar balasan kakaknya, langkahnya
mengarah pada sebuah kamar di sudut. Diketuk beberapa kali tak ada jawaban.
Perlahan dibuka daun pintu kamar itu, matanya mulai menjelajah seluruh inchi
ruangan. Tak ditemukan kakaknya.
“ Mbak Asih..” panggil Inong
Dari sudut lain
terdengar suara tangis bayi meringkih. Inong mulai meninggalkan kamar kakaknya
dan beralih ke arah suara tangis bayi. Suara itu berasal dari kamar lain di
sudut yang berbeda. Pintu kamar itu telah terbuka separuh, tangan Inong meraih
gagang pintu dan membuat pintu terbuka lebar. Disana, pandangannya mendapati
kakaknya yang sedari tadi dicarinya menimang-nimang bayi berusia sekitar 14
bulan. Air mata membasahi wajah mungil, kaki dan tangannya bergerak tak
beraturan berontak ingin terlepas dari dekapan bundanya. Tangisnya semakin lama
semakin kencang. Kamar Inong berantakan. Semua barang-barang keluar dari
persembunyiannya. Perlahan pandangannya terarah pada kakaknya. Wajah Asih
terlihat setengah ketakutan merasa tak enak pada Inong. Dia tau betul adiknya
paling benci seseorang masuk kamarnya, setidaknya itulah yang dia sepakati dulu
dengan adiknya untuk tidak memasuki area privasi masing-masing.
“ Nong mbak minta maaf ya, mbak nggak tau Sandi masuk sini.” Jelas
Asih setengah kesusahan menggendong anaknya yang semakin meronta.
Tangis Sandi semakin menjadi. Kecerian di
wajahnya hilang seketika. Hati kecil Inong merindukan wajah malaikat
keponakannya. Sesaat senyum singgah di bibir Inong untuk kakaknya.
“ Nggak apa-apa mbak. Biar Inong yang beresin, mbak sarapan dulu. Ntar
Inong nyusul. ”
********
Tangis sandi
samar-samar masih terdengar dari dinding kamarnya. Dilihatnya seluruh isi
kamarnya, sungguh seperti kapal pecah. Sesaat menghela nafas panjang dan
memulai mengembalikan ruangannya. Seprei, bantal dan guling dirapikan seperti
sediakala. Satu per satu barang di lantai di ambilnya dan di kembalian pada
tempatnya. Novel-novel dan komik koleksinya di letakkan pada rak meja
belajarnya. Bedak, sisir serta botol-botol berisi perlengkapan riasnya ditata
seperti sebelumnya. Surat-surat dan dokumen penting seperti ijazah dan
sertifikat dikembalikan pada kotaknya. Kini tiba pada kertas bewarna-warni dan
foto-foto yang tidak seharusnya keluar dari kotak pandoranya. Wajar Sandi
dengan mudah mengacak-acak barangnya, semua tergeletak pada ketinggian rendah
yang dapat dijangkau keponakannya, apalagi kotak terlarangnya itu malah
bersembunyi di kolong kasurnya. ‘ Sial!’ batin Inong
Wajah yang terlukis
difoto itu, kini tergambar di matanya. Perlahan Inong membungkukkan badannya
meraih salah satu foto. Senyum yang abadi pada kertas di tangannya, membuat
tangan Inong gemetar. Diambilnya duduk bersandar pada dinding ranjang. Matanya
mulai berair, perlahan nafasnya tersengal mengisak tangisnya. Foto itu bagai
hipnotis yang kuat mengantar pikirannya melayang jauh pada suatu waktu. Waktu
disaat Inong dapat melihat senyum yang sesungguhnya, mendengar suara yang
terdengar langsung dari pemiliknya, dan menyentuh kulit milik pemuda di foto
itu.
********
“ Nggak!!!!”
“ Sekali aku bilang nggak ya nggak!!!!” lanjut suara yang memekikkan
telinga.
“ Ya tapi kenapa?” tanya seorang yang lainnya
“ Aku nggak mau bim.” Seisi rumah seakan terpenuhi oleh suara kedua
orang ini. Mbak Asih jelas malam mingguan dengan mas Antok, Ayah-Bunda pergi ke
hajatan teman sekantor Ayah. Rumah seharusnya sepi.
“ Ayolah Nong, jarang kita keluar buat kencan.” Rayu seorang lelaki di
ruang itu.
“ Ya tapi nggak di pasar malam!” bentak Inong di masa itu.
“ Ya tapi kenapa?” tanya Bima tidak terima.
“ Aku nggak perlu jelasin” jawab Inong memelankan suaranya.
Wajah Bima nampak kesal tak
puas dengan jawaban Inong.
“ Ini karena Arya? Ya ‘kan?” Bima seakan memulai debatnya lagi
Inong tertuduk
sejenak. Dibantingnya tubuh mungilnya ke sofa di ruang tamunya. Sesekali
menghela nafas panjang.
“ Aku cuma capek bim.” Inong beralasan.
“ Sampai kapan kamu mau terpuruk Nong? Ke pasar malam bukan suatu
kutukan.” Jelas Bima mengambil duduk di depan Inong. Tangannya menarik jemari
Inong dan menggenggamnya kuat.
“ Dan kematian Arya bukan karena motor ataupun kencan ke pasar malam.”
tambahnya dengan nada lirih.
Pikirannya seakan
tersedot ke masa lalu yang lebih dalam. Arya hanya duduk di atas kursi kayu
rumahnya dengan kepala yang bersandar pada lengannya. Diambilnya posisi yang
nyaman. Badannya seakan telah menyatu dengan kursi itu.
“ Ayolah Ar,” rayu Inong sama persis dengan Bima.
“ Aku lelah Nong, minggu depan saja ya...” jawab Arya menolak ajakan
Inong.
“ Tapi minggu depan pasar malam itu sudah bubar” paksa Inong manja.
“ Kalau gitu kamu berangkat sama mbak Enik saja ya...” bujuk Arya
sabar.
“ Aku pacarmu! Bukan pacar Mbak yu mu!” ucap Inong kesal.
“ Aku harus apa Nong buat kamu percaya? Aku benar-benar lelah.” Melas
Arya.
“ Aku sudah terlanjur beli dua tiket untuk kita naik gondola.” Inong
mulai beralasan lagi.
Punggung Arya
terlihat jelas mengharap lebih lama diistirahatkan walau hanya bersandar pada
kursi kayu sekali pun.
“ Ya sudah. Tunggu, aku ganti dulu”
Arya bangkit dari tempat duduknya.
Mengambil jaket dan kunci motor. Motor bututnya kembali dikeluarkan dari teras
rumahnya. Angin malam menghembuskan hawa
dinginnya menerpa insan yang disekitarnya seakan menyeret Arya dan Inong ke
arah yang berlawanan. Kondisi Arya melemah, beberapa kali ia mengedipkan mata
berusaha mengembalikan pandangannya yang sempat kabur. Inong tau betul watak
Arya yang terlalu gigih mengikuti kegiatan sekolah dan mengisi hari-hari
organisasi sekolahnya. Itu menjadikan Inong mengutuk waktu.
Cahaya bulan temaram
menghiasi langit hitam legam bertabur bintang. Lampu-lampu di sepanjang jalan
membantu Arya melihat dalam gelapnya malam. Nampak satu-dua cahaya yang
terpantul dari lampu motor pengendara yang lain. Lagi-lagi angin menerpa
mengacaukan pandangan Arya. Hingga pada suatu ketika yang bisa ia lakukan hanya
mendengar klakson keras dari kendaraan yang di depannya. Decit mobil berhenti.
Motor butut terkapar di jalanan. Arya terlempar jauh di jalan beraspal. Mata
Inong setengah sadar melihat tubuh kekasihnya masa itu tertidur pulas di atas
aspal. Darah keluar dari hidung dan kepala Arya, jaketnya robek, kulitnya
lecet. Di tengah cahaya yang mulai memudar sinarnya, warga keluar dari
peraduannya dan berlarian ke arah Inong dan Arya. Beberapa diantaranya menjerit
memekikkan kata ‘tolong’. Perlahan mata Inong mulai terpejam.
Selama tiga hari
Inong tak sadarkan diri. Hal pertama yang ia tau saat membuka matanya kembali
ke dunia adalah kepergian Arya, kekasihnya. Hatinya ia tutup rapat-rapat untuk
mengutuk ke egoisan mereka berdua.
“ Nong...” panggil suara yang membuat Inong kembali ke masanya.
“ Kamu masih belum bisa terima soal Arya”
Pandangan Inong
kacau. Matanya menatap wajah Bima, lelaki yang kini menjadi kekasihnya, pemuda
yang bisa mengangkatnya dari kutukannya sendiri.
“ Sudah Nong, itu sudah selesai. Sekarang waktu kita.”
“ Itu nggak akan buat aku mau pergi ke pasar malam Bim.” Jawab Inong
ketus.
“ Jangan bodoh seperti Don Kisot Nong! ! kamu pikir apa yang kamu
hadapi? ”
“ Sudahlah bim, aku nggak mau! Sekali nggak ya tetep nggak! ” Inong
kembali menaikkan suaranya.
“ Tapi kematian seseorang itu sudah digariskan Tuhan, begitu pun Arya
Nong.”
“ Sudah. Aku sudah lelah debat sama kamu yang ngeyel terus. Aku harus
tulis di jidatku kalau aku tetep nggak mau?”
Bima seketika
melepaskan gengamannya. Geram dengan pemikiran Inong.
“ Baik! Aku akan buktikan kalau pemikiranmu yang kolot itu cuma omong
kosong! Dengar Nong, naik motor atau pergi ke pasar malam bukan membawa
kematian seseorang.”
Deru motor Bima
perlahan menjauh. Inong ditinggal bersama masa lalunya dan pergi membawa
kekecewaan akan kekasihnya. Cahaya motornya perlahan lenyap ditelan gelap.
Pagi yang
menyakitkan, Inong harus kembali melihat tubuh pemuda yang disayanginya
terkapar tak bernyawa. Wajah bima pucat, terdapat beberapa bekas luka lecet di
sekitarnya. Parasnya nampak dingin, sedingin saat ia meninggalkan Inong bersama
kebodohnnya dan kini membuat kekasihya mengutuk kembali dirinya sendiri. Tak
tertahan lagi, air mata Inong jatuh menuruni pipi mulusnya. Kini hati Inong
tertutup untuk selamanya. Mendekap pemikiran kolotnya.
“ Inong... Ayo turun sarapan dulu.” panggil suara ibunya dari lantai
bawah
Inong tertarik kembali pada masa di mana
kenyataan melilitnya dengan kehampaan. Angin pagi semilir masuk melalui jendela
kamarnya yang terbuka lebar. Tirai melambai ke arahnya diterpa angin yang
berbondong-bondong memenuhi kamarnya. Inong bangkit dari duduknya melangkah ke
arah jendela kamarnya. Sesaat ia berharap menjadi seorang Clementine saja.
Matanya mengarah pada para ibu-ibu yang masih berkumpul membahas belanjannya
dan beberapa mempunyai bahan perbincangan lainnya. Dihirupnya dalam-dalam udara
segar yang datang ke arahnya, dirasakannya kenyataan akan hidupnya, didengarnya
perbincangan para ibu-ibu dari bisik angin di telinganya. Perbincangan tentang
Inong yang hanya dikenal sebagai perawan desa pembawa sial.......
Tidak ada komentar:
Posting Komentar